Langsung ke konten utama

DREAMERS

Semua orang pasti ingin mencari jati dirinya sendiri, biasanya mereka memiliki impian untuk menemukannya. Aku pun sama, tapi aku saja tidak tau apa impianku. Bagaimana caraku untuk menemukan jati diriku sendiri jika tidak punya impian, ya? Di bawah pohon rindang pinggir lapangan sekolah tempat favoritku untuk merenung, disertai angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Aku bertanya pada diriku sendiri, namun tetap saja aku tak bisa menemukannya.

Namaku Andre Ahmadi, seorang siswa kelas 11 SMA yang berusaha menemukan impiannya. Hah, entahlah. Ternyata memutuskan impian sendiri itu susah, ya. Tapi, kenapa baru sekarang aku memikirkannya? Mungkin, agar aku siap menentukan jalanku saat dewasa nanti.

Aku memang sering ikut Olimpiade Matematika, tapi aku tau untuk menjadi yang pertama itu sangat sulit makanya aku rasa itu bukan impianku. Menjadi komikus, aku rasa juga bukan karena gambaranku biasa saja. Kira-kira apa, ya...

Di saat aku sedang berpikir keras, aku diganggu oleh seseorang. "Andre, kamu lagi ngapain?" Terdengar suara perempuan bertanya kepadaku. Ternyata dia adalah teman sekelasku yang telah bermain voli, Vanesa namanya. "Bukan apa-apa." Jawabku sedikit cuek sambil menutup laptop yang dari tadi aku mainkan. "Begitu, ya..., emmm. Beberapa hari yang lalu aku melihatmu memosting sesuatu di sosial media tentang impian, apa kamu sedang memutuskan apa impianmu?"

Aku terkejut Vanesa berkata seperti itu, karena seingatku aku tidak pernah memosting masalah pribadiku ke sosial media kecuali tentang halal kesukaan- aaa, apa yang dia maksud adalah... "Hum? Maksudmu postinganku tentang DREAMERS? Itu nama penggemar boyband Jepang kesukaanku, bukan masalah pribadiku."

"Oh, begitu. Aku kira kamu sedang ada masalah pribadi, ahahaha. Kalau kamu ada masalah, panggil saja aku kapan saja. Aku pasti akan mendengarkan." Vanesa berkata seperti sambil membentuk Shaka pada tangannya, mengingatkanku pada sesuatu.
"Kamu..."
"Hmmm?"
"Bukan apa-apa."
"Ok, aku balik dulu~!"
Vanesa pergi meninggalkanku sendirian di bawah pohon itu.

Keesokan harinya, aku bertemu dengan kakak kelasku yang bernama Wulan dia menawariku untuk ikut ekstra komputer karena aku lumayan pandai mengoperasikan komputer. Tapi, aku menolaknya.
"Eh? Kenapa kamu tidak mau?
"Karena aku tidak minat."
"Bukankah menyenangkan jika nantinya kamu dapat mengekspresikan hasil karyamu ke seluruh dunia tanpa kebingungan dengan fitur-fitur komputer, atau mungkin kamu ingin menjadi seseorang yang terkenal tanpa memperlihatkan wajahmu seperti Vtuber?"
"Hmmm, itukah impianmu kak?"
"A, iya itu adalah impianku."
"Hmmm, menarik."
Aku tersenyum, lalu pergi sambil menepuk pundak kak Wulan.

Di tengah jalan, aku bertemu dengan kak Juna. Ia adalah orang yang sangat menyukai Biologi, katanya impiannya ingin menjadi peneliti. Setelah bertemu dengan kak Juna, aku bertemu dengan adik kelasku Arubi. Ia sangat dekat dengan Vanesa, kak Wulan, kak Juna, juga aku. Ia wibu sejak SMP, karena aku juga tertarik dengan jejepangan akhirnya kami menjadi dekat.
"Rubi~!"
"Halo, kak Andre-!"
"Bi, kamu 'kan DREAMERS ya, kamu juga seneng banget pas tau kalau itu DREAMERS. Apa yang membuatmu senang mendengar itu?"
"Hmmm, tentu saja karena itu yang sebenarnya. Aku memang seorang pemimpi, impianku memang banyak walau aku tau mungkin aku tidak bisa menggapai semua tapi setidaknya aku sudah berusaha. Jadi, menjadi bagian dari DREAMERS juga sangat meruapakan keinginanku."
"Waaah, begitu 'kah."
"Kak Andre juga bagian dari DREAMERS, 'kan? Kalau boleh tau, impian kakak apa? Satu aja, deh."
"Hmmm... Aku rasa, aku belum menjadi DREAMERS."
"Eh, kenapa? Bukannya kakak juga senang sampai ikut posting di sosmed?"
"Iya, tapi aku sadar. Aku rasa aku belum pantas menajdi DREAMERS, baik itu seorang pemimpi atau bagian dari penggemar. 'Makasih, Bi."
"Eh? Ah... Sama-sama~! Tapi, kakak tau? Nama kakak bisa jadi 'A dream', lho. Ehe..."
"Maksdunya?"
"AnDRE AhMadi, A DREAM!"
"Hahaha, kamu bisa aja Bi. Aku pergi dulu, ya."
Aku pergi meninggalkan Rubi dengan senyum lebar.

Baiklah, kalau begitu mulai sekarang impianku adalah menjadi DREAMERS. Seorang pemimpi dan penggemar dari GENERATIONS from EXILE TRIBE. Happy 9th Anniversary GENE~!



──────────────────────
Thanks for reading my gabut story:'> krisar? Boleh banget~! Update lagi? Entahlah, sedang sibuk ama ujian-

#GENERATIONS × #DREAMERS
#GENE
#GENEjaNINE

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Story From Kara

Aku menyukainya, dia baik, perhatian, dan tentu saja tampan. Aku merasa beruntung karena telah dipilihnya untuk menjadi partnernya, apakah ini yang disebut takdir? Aku dulunya hanya seekor kucing liar biasa. Aku tidak tau kenapa dia memilihku, padahal banyak kucing lain yang lebih baik dariku. Ya, aku hanya bisa bersyukur. Pemilikku namanya Liam, sementara aku. "Kara~!" Itulah, namaku. Tuan Liam sangat pandai dalam berbagai hal, aku pernah mendengar dia sering mendapat peringkat tinggi di kelasnya. Selain itu, ia juga pandai dalam bermain gim dan suaranya sangat bagus~♡! Ia sering mengekspresikan dirinya lewat lagu, ketika ia bernyanyi aku seperti teebawa arus nyanyiannya hingga ingin tenggelam baik lagu sedih atau senang. Tidak heran banyak yang menyukainya dan secara tidak sengaja banyak perempuan mendekatiku. "Aku tidak menyukainya-_-" Itulah yang ada di pikiranku ketika para perempuan itu mengelus kepalaku dengan tujuan tuan Liam melihatnya. Walaupun begitu, ...

Good, Cool, Pack

"Good, Cool, Pack." "Untuk menemukan sesuatu yang penting, Good saat tubuhmu diam, Cool saat menggunakan kepala, dan Pack adalah jawaban semuanya." Itulah yang dikatakan Hiiragi Ibuki dalam sebuah drama Jepang 3 Nen A Gumi. Sejak mengetahui itu, aku mencoba menerapkannya pada diriku sendiri dan orang lain. Panggil saja aku Wika, karena kesukaanku dengan Jepang orang-orang jadi memanggilku "WIbu garis KerAs". Aku tak masalah dengan itu, asalkan mereka tidak keberatan jika aku mendekati mereka. Kelas 9.1 adalah kelasku, kami kedatangan Siswa baru. Dia pintar, namun karena sikapnya yang ceroboh ia dibully di sekolah lamanya. Aku mengenalnya, dia tidak suka denganku yang seorang wibu.  Namanya, Abu. Abu menjadi pendiam, ketika ada temanku yang mendekatinya dia marah. Membuat teman-teman ku tidak ada yang berani mendekatinya. Aku pun mencoba mendekatinya. Di saat ia duduk sendirian di bangkunya ketika jam pulang sekolah, aku mendekatinya dari belakang. Aku ingi...