Langsung ke konten utama

The Story From Kara


Aku menyukainya, dia baik, perhatian, dan tentu saja tampan. Aku merasa beruntung karena telah dipilihnya untuk menjadi partnernya, apakah ini yang disebut takdir?

Aku dulunya hanya seekor kucing liar biasa. Aku tidak tau kenapa dia memilihku, padahal banyak kucing lain yang lebih baik dariku. Ya, aku hanya bisa bersyukur.

Pemilikku namanya Liam, sementara aku. "Kara~!" Itulah, namaku. Tuan Liam sangat pandai dalam berbagai hal, aku pernah mendengar dia sering mendapat peringkat tinggi di kelasnya. Selain itu, ia juga pandai dalam bermain gim dan suaranya sangat bagus~♡! Ia sering mengekspresikan dirinya lewat lagu, ketika ia bernyanyi aku seperti teebawa arus nyanyiannya hingga ingin tenggelam baik lagu sedih atau senang. Tidak heran banyak yang menyukainya dan secara tidak sengaja banyak perempuan mendekatiku.

"Aku tidak menyukainya-_-" Itulah yang ada di pikiranku ketika para perempuan itu mengelus kepalaku dengan tujuan tuan Liam melihatnya. Walaupun begitu, tuan Liam belum pernah pacaran. Katanya, dia ingin langsung menikah dengan orang yang benar-benar ia sukai.

Suatu hari, tuan Liam berhasil mendaftar di universitas terkenal. Ia dan keluarganya merayakannya dengan makan di restoran, aku ditinggal sendirian di rumah;-; namun, kejadian tak menyenangkan terjadi. Mereka pulang larut malam, ayah tuan Liam yang saat itu sedang menyetir mobil dikejutkan oleh truk yang melaju kencang dari arah berlawanan yang menyebabkan mereka bertabrakan. Di duga, sopir truk mengantuk sehingga terlambat mengerem truknya. Ayah dan ibu tuan Liam tidak selamat, syukurlah tuan Liam bisa selamat.

Aku dititipkan ke tetangga tuan Liam karena tuan Liam masih harus dirawat di rumah sakit, namanya Putra. Ia adalah adik kelas tuan Liam saat SMA, orangnya ramah, suka tersenyum, dan tentu saja dia sangat perhatian denganku>< "Aaa, aku mendapat banyak perhatian dari laki-laki yang baik dan tampan semua~!" Itulah, yang aku pikirkan tentang betapa beruntungnya diriku.

Setelah beberapa hari, tuan Liam pulang. Aku menyambutnya dengan gembira, tapi tuan Liam sangat murung. Senyum kecil saja, ia seperti tak ingin mengeluarkannya, karena itu Putra masih tetap menjagaku hingga keadaan tuan Liam benar-benar pulih. Setiap hari, yang ia lakukan hanyalah bermain gim dengan muka murung. Hah... Aku rindu dengan nyanyiannya, aku ingin mendengarnya bernyanyi walau sebentar saja. Ketika aku mendekatinya, dia malah mengusir ku:'( aku tidak tau harus bagaimana, apakah aku harus membiarkannya seperti itu?

Aku mengumpulkan keberanianku. Di malam yang dipenuhi bintang itu, aku menggaruk-garuk pintu belakang rumah tuan Liam, berusaha agar tuan Liam keluar dari rumah. Seperti perasaanku sampai padanya, ia membuka pintu. Melihatku yang sedang menggaruk pintu, kemudian ia melihat ke langit. Layaknya seorang manusia yang menemukan cahaya setelah sekian lama, ia ingin menangis namun ia tahan. Lalu, ia duduk di bangku halaman rumah. Ia termenung sebentar, kemudian mulai bernyanyi~♡
     Back when I was a kid
     My mom told me how to let go from everything
     "Find your inner peace" that's what she told me
     'Cause nothing, nothing comes for free
(Break Into The Dark - Valentine feat. Rui & Afrojack)
Setelah itu, ia menangis selama beberapa menit. Aku mencoba mendekatinya, mengelus tangannya dengan kepalaku. Tuan Liam membalasku dengan mengelus kepalaku sambil tersenyum kecil. Melihatnya seperti itu, aku sudah sangat senang^^

    Whenever I feel like I'm all alone
    I'll find the glory deep inside my soul
    And I'll fight for my passion in life
    Give everything I have in me
    And break into the dark
    I'll break into the dark
    I'll give eveything I have and everything I had
    I'm one step closer to the light
    I'll break into the dark
    I'll break into the dark
(Break Into The Dark - Valentine feat. Rui & Afrojack)

"Ok, besok jangan lesu lagi!" Semangat tuan Liam tiba-tiba membara, entah kenapa membuatku semangat juga. "Meaowww!!!" Balasku.

Tuan Liam mulai berkuliah dan bekerja paruh waktu untuk meringankan beban paman dan bibinya yang selama ini membiayainya setelah orang tuanya meninggal. Seperti yang dulu ia lakukan, ia selalu bercerita tentang harinya denganku. Katanya, ia bertemu dengan teman SMA-nya yang dulunya pernah menolong orang yang kena bully. Ia berkata seperti itu dengan sangat senang, seperti orang yang menemukan cinta sejatinya. Jika itu benar, aku penasaran dengan orang ini.

Tuan Liam bekerja di sebuah caffe dekat dengan kampus tuan Liam sebagai pelayan. Ia bercerita, ia bertemu dengan teman SMA-nya itu ketika sedang sedih. Setelah curhat dengan tuan Liam, ia ingin bekerja di caffe itu juga. Tuan Liam seperti mendapat semangat berlipat ganda setelah mendengar hal itu, ia sangat bahagia sekali. "Kuliah ketemu dia, kerja juga ketemu dia. Ah~ senangnya." Tuan Liam tidak berkata seperti itu, tetapi aku merasa ia mengatakan itu dalam hatinya. Wika nama teman SMA tuan Liam itu, aku belum pernah bertemu dengannya.

Tuan Liam pulang jam 20.00, sebelum ia pulang Putra selalu mengawasiku. Karena aku pernah membuat rumah tuan Liam berantakan karena lapar. Namun, ini sudah lebih dari jam pulangnya. Kira-kira, dia ada dimana sekarang?

Jam menunjukkan pukul 20.30, terdengar suara langkah kaki dari luar. Terlihat tuan Liam sudah pulang dengan wajah terdapat bekas luka. Putra yang berada di sofa langsung bertanya kepada tuan Liam. "Kak Liam, apa yang terjadi?" Tanya Putra dengan khawatir, "A, tadi temanku diganggu orang aku menolongnya. Ini, adalah hadiahnya. Hahaha..." Jawab tuan Liam dengan menunjukkan wajahnya yang lebam sambil tertawa kecil. "Ya, setelah ini. Aku akan mengantarkannya pulang terus, jadi mungkin aku agak pulang terlambat. Tidak apa-apa 'kan, Put?" Tanya tuan Liam dengan Putra sambil duduk di sofa. "Ya, serahkan saja padaku." Jawab Putra dengan semangat, "Sip, makasih~" Balas tuan Liam dengan wajah lega.

Setelah hari itu, tuan Liam selalu pulang agak terlambat. Namun, itu malah membuat Putra senang. Karena, dia melakukan hal-hal aneh kepadaku. Rasanya ingin aku mencakarnya, tapi dia pintar karena sebelum melakukan ini dia sudah memotongi kukuku.

Berbeda dari hari biasanya, kali ini tuan Liam sangat lama sekali. Putra sampai mengantuk menunggu tuan Liam, sebenarnya apa yang terjadi lagi?

Tak lama kemudian, terdengar suara mobil dan motor tuan Liam dari luar. Setelah itu, terdengar suara perempuan meminta tolong untuk membukakan pintu gerbang. Putra yang terkejut, lalu bergegas membukakan pintu gerbang. Terlihat tuan Liam yang pingsan dibopong oleh seorang laki-laki yang tak ku kenali dan ditemani oleh perempuan yang juga asing olehku.

Tuan Liam segera dibawa ke kamarnya, kemudian Putra berbincang dengan laki-laki dan perempuan tadi. Ternyata, perempuan itu adalah Wika dan laki-laki itu adalah kakaknya.

"Sejak pulang dari kampus tadi, aku merasa Liam sangat kelelahan. Aku berusaha memaksanya untuk tidak bekerja dulu, tetapi ia tidak mau. Lalu Seperti biasa, dia mengantarkanku pulang. Setelah sampai di depan rumah, dia melambaikan tangan kepadaku. Saat ia berbalik, bukan kakinya yang melangkah ke depan tetapi tubuhnya yang terjatuh ke belakang. Spontan, aku menangkapnya. Kemudian, memanggil kakakku yang berada di depan rumah. Kakakku membawanya ke mobil kami, sementara motornya dibawa oleh kakakku. Jadi, begitu ceritanya." Wika bercerita kepada Putra. Ketika mereka melanjutkan perbincangan, aku menjenguk tuan Liam yang terbaring di kasurnya. Dengan rasa iba, aku duduk di sebelahnya. Tanpa aku sadari, aku ikut tertidur juga.

Pagi harinya, bukan matahari yang menyambut ku. Namun, bokong yang menendangku hingga jatuh ke lantai sampai terdengar suara "Brukkk!". Tuan Liam terkejut, kemudian melihatku yang terjatuh di lantai. "Woah, Kara-! Apakah tadi kau jatuh karena aku? Maaf, ya~ nanti aku kasih makan yang banyak ya. Jadi, maafkan aku..." Pinta tuan Liam sambil memungutku dari lantai.

Tak lama kemudian, Wika datang disambut oleh Putra yang juga ingin menjenguk tuan Liam. "Selamat pagi~!" Kata Putra sambil membuka pintu kamar tuan Liam. "Kak Liam, udah baikan?" Tanya Putra dengan memasang muka ceria. "Baik, dong~!" Jawab tuan Liam dengan semangat.

"Liam, kau lebih baik hari ini libur kuliah dan kerja ya. Udah aku beritahu ke manager caffe kalau kamu sakit. Oh, ya! Besok caffe kita akan menyewa band terkenal selama seminggu." Wika menyodorkan sebuah foto grup band kepada tuan Liam. "Woah!? Ini-?" Tuan Liam menunjuk sebuah foto tempelan di kamarnya. "Aaa-!!! Iya!" Wika terkejut, ternyata foto yang diberikan Wika adalah band kesukaan tuan Liam. "Baiklah, kalau begitu. Besok harus sehat, jadi sekarang aku harus tidur lagi." Kata tuan Liam dengan penuh semangat. "Gak boleh, olahraga dulu." Bantah Wika. "Eh? Tapi, kamu 'kan tau aku habis kecapekan." Wajah tuan Liam memelas. "Gak! Pokoknya olahraga dulu, minimal 30 menit. Cepet! Kalau tidak, Kara aku ambil~" Goda Wika. "Gak mau-!!!" Tuan Liam berlari sambil membawaku.

Keesokan harinya, tuan Liam sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah ia pulang bekerja, wajahnya jauh lebih senang dari biasanya. Mungkin karena bertemu dengan band favoritnya. Ia, lalu bercerita denganku.

"Hei, Kara~ tau gak, tadi aku bertemu dengan mereka. Woaaaaahhh mereka keren banget, membuatku tidak sadar tempat, hingga aku tidak sengaja menabrak manager band itu yg telah menerima telpon, walau dia tidak apa-apa tetapi nampan yang aku bawa jatuh membuat suara bising di sana. Band yang sedang bernyanyi tiba-tiba berhenti karena mendengar suara nampanku yang jatuh. Aku dilihat banyak orang, whuaaa aku malu sekali. Beberapa saat kemudian, vokalis band itu datang menghampiriku. Dia bertanya kepadaku, apakah aku pernah ikut lomba nyanyi lalu menang juara satu. Dengan penuh semangat dan wajah yang tersenyum lebar, aku menganggukkan kepalaku. Dalam hatiku berkata, wah ternyata dia masih ingat. Setelah itu, dia mengajakku nyanyi bersama. Wahhh, seneng banget. Seluruh anggota band memuji suaraku. Hari ini sangat menyenangkan, ya~ bisa ketemu band favorit, diajak nyanyi bareng lagi." Wajah tuan Liam terlihat jelas sangat senang. Aku menikmati setiap kata yang diucapkan tuan Liam, entahlah hanya mendengar suaranya membuat hatiku tenang.

Tuan Liam kembali ke kamarnya, lalu mengecek HP-nya setelah menceritakan tadi kepadaku. Aku terkejut dengan teriakan tuan Liam, sambil berlari ke arahku dia berkata bahwa video yang memperlihatkan ia bernyanyi dengan band favoritnya viral. Paginya, ia mendapat kabar dari manager caffe-nya bahwa dia akan terus bernyanyi bersama band favoritnya di caffe. Setelah seminggu ia bernyanyi dengan band favoritnya, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai pelayan caffe karena dia telah diminta untuk menjadi anggota tetap band itu. Rasa senang yang sudah tidak dapat dikatakan lagi, seperti ia telah benar-benar keluar dari keadaan terpuruknya. Ia telah menghancurkan kegelapan yang pernah menyelimutinya.

Setelah ia lulus kuliah, ia berencana pindah dari rumahnya. Sebelum itu, ia ingin bertemu dengan Wika di sebuah restoran yang diperbolehkan membawa hewan peliharaan. Di sana, aku mendengar percakapan menarik mereka.

"Jadi, kamu beneran mau pindah dari rumahmu yang dulu? Kenapa?"
"Aku ingin memulai hidup baru."
"Hmmm, nanti Kara gak ada yang nemenin dong. 'Kan kamu nantinya bakal pulang lama juga, 'kan?"
"Iya, sih. Aku juga sedang memikirkan itu, mungkin aku akan menyewa orang untuk menjaganya."
"Kau ini, sudah punya banyak uang maunya sewa orang ya. Biar aku saja yang menjaganya."
"Eh? Lalu pekerjaaanmu?"
"Ya, aku tetap akan bekerja nantinya."
"Hah? Maksdunya, kamu bekerja jadi pembantuku gitu?"
"Hufttt... Ya, kamu yang menafkahi akulah. Aku nantinya akan bekerja sebagai ibu rumah tanggamu."
*jdeeerrr*
"..."

Ya, begitulah mereka memulai hidup baru mereka. Walaupun mereka sudah punya anak, untunglah mereka tidak melupakanku. Putra juga terkadang datang dengan pacarnya ke rumah baru tuan Liam hanya untuk menemuiku.

Terimakasih telah membaca~♡!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DREAMERS

Semua orang pasti ingin mencari jati dirinya sendiri, biasanya mereka memiliki impian untuk menemukannya. Aku pun sama, tapi aku saja tidak tau apa impianku. Bagaimana caraku untuk menemukan jati diriku sendiri jika tidak punya impian, ya? Di bawah pohon rindang pinggir lapangan sekolah tempat favoritku untuk merenung, disertai angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Aku bertanya pada diriku sendiri, namun tetap saja aku tak bisa menemukannya. Namaku Andre Ahmadi, seorang siswa kelas 11 SMA yang berusaha menemukan impiannya. Hah, entahlah. Ternyata memutuskan impian sendiri itu susah, ya. Tapi, kenapa baru sekarang aku memikirkannya? Mungkin, agar aku siap menentukan jalanku saat dewasa nanti. Aku memang sering ikut Olimpiade Matematika, tapi aku tau untuk menjadi yang pertama itu sangat sulit makanya aku rasa itu bukan impianku. Menjadi komikus, aku rasa juga bukan karena gambaranku biasa saja. Kira-kira apa, ya... Di saat aku sedang berpikir keras, aku diganggu oleh seseorang. "Andr...

Good, Cool, Pack

"Good, Cool, Pack." "Untuk menemukan sesuatu yang penting, Good saat tubuhmu diam, Cool saat menggunakan kepala, dan Pack adalah jawaban semuanya." Itulah yang dikatakan Hiiragi Ibuki dalam sebuah drama Jepang 3 Nen A Gumi. Sejak mengetahui itu, aku mencoba menerapkannya pada diriku sendiri dan orang lain. Panggil saja aku Wika, karena kesukaanku dengan Jepang orang-orang jadi memanggilku "WIbu garis KerAs". Aku tak masalah dengan itu, asalkan mereka tidak keberatan jika aku mendekati mereka. Kelas 9.1 adalah kelasku, kami kedatangan Siswa baru. Dia pintar, namun karena sikapnya yang ceroboh ia dibully di sekolah lamanya. Aku mengenalnya, dia tidak suka denganku yang seorang wibu.  Namanya, Abu. Abu menjadi pendiam, ketika ada temanku yang mendekatinya dia marah. Membuat teman-teman ku tidak ada yang berani mendekatinya. Aku pun mencoba mendekatinya. Di saat ia duduk sendirian di bangkunya ketika jam pulang sekolah, aku mendekatinya dari belakang. Aku ingi...